Rabu, 14 September 2016

Akibat Seseorang yang Mengenteng-entengkan Shalat







  Beberapa istri Rasulullah berkata bahwa :

  "Rasulullah Saw biasa berbicara dengan kami dan kami berbicara dengan beliau. namun ketika tiba waktu shalat, beliau tampak seolah-olah tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal beliau, karena perhatian beliau tertuju penuh kepada Allah SWT." (Mustadrak al-Wasa'il, bab 2, hadis 17)

   Ibnu Thawus berkata, dalam falah al-sail, bahwa ketika Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib mengambil wudhu, wajahnya berubah wara dan sendi-sendinya gemetar. Ketika di tanya tentang sebabnya, Imam Husain berkata, "Ketika seseorang akan berdiri di hadapan pemilik Arasy, warna wajahnya semestinya berubah menjadi pucat dan sendi-sendinya menjadi gemetar."
   Periwayat yang sama juga menyatakan bahwa Imam Hasan bin Ali selalu mengalami kondisi serupa sebelum dan pada waktu shalat. (Bihar al-Anwar, jilid 77, hal.346)

   Sayangnya, banyak dari kita yang memperlakukan shalat sebagai jenis aktivitas kita sehari-hari yang lain (sampingan).
   Sebagian kita tidak hanya mengenteng-entengkan waktu pelaksanaan shalat, bahkan sebagian lainnya tidak melaksanakan kewajiban ini, yang merupakan kewajiban yang memiliki bobot yang sangat berat. Bagi orang-orang yang menganggap enteng shalat, Rasulallah saw bersabda :
   
   "Orang yang menganggap enteng shalat bukan bagian dari aku. Tidak! Demi Allah! Orang seperti itu tidak akan mencapai telaga Kautsar."

   Menurut Rasulallah saw, orang yang menyia-nyiakan shalatnya akan dibangkitkan bersama Qarun dan HHaman, sehingga menjadi hak Allah SWT untuk menempatkannya di dalam neraka bersama dengan orang-orang munafik.

   Imam Jakfar Shadiq berkata kepada Zurarah :
  "Janganlah lalai dalam melaksanakan shalatmu, sesungguhnya, Rasulallah saw bersabda menjelang wafatnya, 'Orang yang mengenteng-entengkan shalatnya atau meminum minuman keras, bukan termasuk bagian dariku. Demi Allah! Ia tidak akan bertemu denganku di telaga Kautsar.' " (Furu' al-kafi, iii, hal.269).

   Al-Kulaini selanjutnya memberitakan melalui para perawinya yang dapat di dipercaya, dari Abu Bashir, bahwa Imam Musa Kazhim berkata :

  "Pada saat menjelang wafatnya, ayahku berkata kepadaku, 'Wahai puteraku! Orang yang mengenteng-entengkan shalatnya tidak akan mendapat syafaat kami.' " (Furu' al-Kafi, iii, 270)

   Imam Khomeini memberikan nasehat berikut ini kepada orang yang mengenteng-entengkan shalat lima waktu dan tidak memedulikannya :

   "Seseorang mukmin taat harus memerhatikan waktu-waktu ibadahnya dalam setiap keadaan. Tentu saja, ia harus memerhatikan waktu-waktu shalat, yang merupakan ibadah yan sangat penting, dan melaksanakannya pada awal waktunya, menahan diri untuk tidak melakukan ativitas lain padawaktu-waktu itu. Sma halnya ketika ia menyiapkan waktu tertentu untuk mencari nafkah serta untuk studi atau untuk diskusi, maka ia seharusnya memperlakukan hal yang sama berkenaan dengan ibadah ini. Pada waktu melaksanakan shalat, ia harus bebas dari aktivitas duniawi lainnya. Sehingga ia dapat mencapai konsentrasi hati. Ini merupakan saripati dan inti dari ibadah."

   Namun seandainya ia melaksanakan shalat-shalatnya karena keterpaksaan dan menganggap pelaksanaan ibadah kepada Allah sebagai sesuatu yang tak berguna, tentu saja, ia akan menundanya selama ibadah itu dapat ditunda. Dan apabila ia melaksanakannya, ia melaksanakan shalatnya dengan asal saja, menganggap shalat sebagai rintangan terhadap apa yang ia kira sebagai tugas-tugas penting. Namun, ibadah seperti itu bukan saja tidak memiliki kecermelangan spiritual, tapi pantas mendapet kemurkaan Allah. Orang seperti itu adalah orang yang mengenteng-entengkan shalat dan mengabaikannya sebagai sesuatu yang remeh.

   Oleh karena itu, marilah kita perbaiki shalat kita yang masih belum sempurna, karena waktu adalah segala-galanya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari dan di akherat kelak.

   Aku berlindung kepada Allah dari mengenteng-entengkan shalat dan tidak menganggapnya penting. (al-Tawhid, Quarterly Islamic Jurnal, hadis ke-27: "Shalat dan Konsentrasi)